Ringkasan
Peristiwa Hijrah
Hijrah
Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah adalah salah satu tonggak sejarah
paling penting dalam sejarah Islam dan sejarah umat manusia.
Secara
lahiriah Hijrah yang terjadi 1432 yang lalu adalah perjalanan yang berjarak 340
km antara Makkah dan Madinah. Tapi keutamaan peristiwa ini bukan karena
jaraknya, tetapi karena begitu banyak pelajaran dan keutamaannya. Hijrah tidak
hanya menandai awal suatu era di mana Islam maju dan berjaya, tapi Islam maju
dan berjaya karena umat Muslim terdahulu mengambil pelajaran dan
keutamaan-keutamaan dari peristiwa besar ini.
Rasulullah
SAW dan kaum Muslim di Makkah diuji oleh Allah melalui kafir Quraysh yang
dengan segala cara berusaha menghentikan penyebaran agama Islam. Penyiksaan,
penghinaan, boikot dan bahkan pembunuhan yang dilakukan musuh-musuh Allah itu tidak
menghentikan Rasulullah dan para sahabat ra. dalam berdakwah. Di puncak
keputus-asaan mereka, pemuka Quraysh mengadakan pertemuan di An Najwa yang
bertujuan untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW.
Ada yang
mengusulkan mempenjara Rasulullah, ada yang ingin mengasingkan Rasulullah dan ada
yang ingin membunuh Rasullullah. Tapi semua sepakat cara-cara itu tidak akan
efektif , sampai Abu Jahal laknatullah mengusulkan agar setiap kaum mengirim
satu pemuda terbaiknya untuk bersama-sama membunuh Rasulullah sehingga keluarga
Rasulullah tidak bisa menuntut balas.
Tapi
Allah berkehendak lain:
﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ
يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ
الْمَـكِرِينَ ﴾
Al Anfal
8: 30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) merencanakan tipu
upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya dan Allah mempunyai rencana. Dan
Allah sebaik-baik perencana.
Rasulullah
berhasil mengecoh para pemimpin Quraysh dan pemuda-pemuda yang mengepung rumah
Beliau. Rasulullah meninggalkan Makkah ditemani oleh sahabat beliau Abu Bakr
ra. yang diriwayatkan menguraikan airmata saking bahagianya ketika diberitahu
bahwa Allah dan RasulNya memilihnya untuk menemani Rasulullah dalam perjalanan
yang menantang maut ini.
Kafir
Quraysh yang menyadari bahwa Rasulullah dan Abu Bakr sudah lolos segera
mengirim pemburu-pemburu untuk menangkap dan membunuh Rasulullah dan Abu Bakr.
Diriwayatkan salah satu dari kelompok pemburu itu sampai di gua Tsur tempat
Rasulullah dan Abu Bakr bersembunyi. Mereka sudah sedemikan dekatnya, sampai-sampai
Abu Bakr yang begitu mengkuatirkan keselamatan Rasulullah berbisik, “Bagaimana
kalau mereka melihat kita?” Rasulullah menjawab,
«يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا
ظَنُكَ بِاثْنَينِ اللهُ ثَالِثُهُمَا»
"Bagaimana
menurutmu tentang dua orang dan Allah menjadi yang ketiga dari mereka”
Diriwayatkan
bahwa Allah mengirim laba-laba untuk membuat sarang didepan gua itu sehingga
para pemburu itu mengira tidak ada orang bersembunyi di gua itu.
Pelajaran
dan keutamaan Hijrah
1.
Ihsan
Nabi
Muhammad SAW membuat persiapan yang matang sekali untuk perjalanan ini.
Beberapa hari sebelum berangkat, Rasulullah menemui Abu Bakr secara
sembunyi-sembunyi pada siang yang terik sekali ketika kebanyakan penduduk Mekah
istirahat siang dalam rumah mereka. Nabi memberitahu Abu Bakr tentang perintah
Hijrah dan membuat rencana perjalanan.
Rasulullah
menyewa Abdullah bin Ariiqat, seorang non-Muslim sebagai penunjuk jalan;
Abdullah bin Abu Bakr memata-matai gerakan kaum Quraysh; dan Asma binti Abu
Bakr membawa makanan ke gua Tsur. Demikian juga ketika meninggalkan Mekah,
Rasulullah dan Abu Bakr mengambil jalan memutar untuk mengelabui kaum kafir
Quraysh.
2.
Tawakkal
Walaupun
Allah sudah memberi jaminan keselamatan dan kemenangan, Rasulullah tetap
berusaha sebaik mungkin dalam perencanaan dan pelaksanaan Hijrah, inilah Ihsan.
Setelah usaha maksimal, Rasulullah menyerahkan semua urusan kepada Allah.
Seorang
pemburu ulung Quraysh, Suraqah bin Malik, sangat tergiur dengan hadiah 100 ekor
unta yang dijanjikan bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah dan Abu
Bakr hidup atau mati dan berhasil mencium jejak Rasulullah dan Abu Bakr. Dengan
tombak siap ditangannya, dia siap membunuh Rasulullah dan Abu Bakr. Tapi entah
kenapa kudanya tersungkur dan dia jatuh dari kuda, hal yang tidak pernah
dialaminya sebelum itu. Kejadian ini berulang sampai empat kali sampai Suraqah
mengambil kesimpulan bahwa Allah melindungi Muhammad SAW dan Abu Bakr ra. dan
dia akhirnya malah minta perlindungan dari Rasulullah.
3.
Pengorbanan Abu Bakr, Ali, kaum Muhajirun dan kaum
Anshar
Hijrah
ini bukan hanya ujian pengorbanan bagi Rasulullah yang harus meninggalkan tanah
Makah dan sanak family Beliau, tapi juga ujian pengorbanan bagi para sahabat
ra. Bagi Abu Bakr; menemani Rasulullah dalam perjalan ini berarti menerima
tantangan maut tidak hanya untuk diri Beliau tapi juga untuk anak-anaknya. Bagi
‘Ali; tidur di tempat tidur Rasulullah adalah mengambil resiko tidak hanya
kemarahan pemuka Quraysh yang murka karena terkecoh, bisa-bisa Beliau dibunuh
sebagai pelampiasan kemarahan mereka.
Abu
Bakr, ‘Ali dan para Sahabat yang berhijrah harus meninggalkan harta benda,
keluarga dan tanah kelahiran mereka. Begitu pula kaum Anshar di Madinah, mereka
rela mengorbankan harta, keluarga dan kesenangan hidup mereka untuk menolong
dan berbagi dengan kaum Muhajirin.
4.
Hijrah menjadi wajib ketika tidak mungkin lagi
beribadah dan berdakwah, tapi tetap harus berusaha
Kita melihat
perintah Hijrah keluar ketika Rasulullah dan para sahabat di Mekah menghadapi
keadaan yang tidak memungkin mereka untuk beribadah dan berdakwah karena
tekanan kaum Quraysh dan kaum Muslimin karena jumlahnya yang sangat sedikit
tidak kuasa melawan tekanan itu.
Ini menjadi dalil
dari hukum Hijrah bagi kaum Muslimin yang hidup sebagai minoritas. Tapi pilihan
ini hanya setelah ada usaha melawan tekanan dan permusuhan yang tidak memungkinkan
kita beribadah dan berdakwah.
5. Hijrah berarti transformasi kearah yang lebih baik
Ø
Transformasi dari
posisi lemah tertindas ke posisi dimana umat Islam di perbolehkan
mempertahankan diri dengan berjihad.
Ø
Transformasi dari
dakwahyang dilakukan secara perorangan ke dakwah yang dilakukan melalui lembaga
institusi Negara atau khilafah.
Ø
Transformasi Islam
sebagai ibadah ritual menjadi agama yang komprehensif, way of life, yang
mengatur tidak hanya masalah ibadah mahdah, tapi juga kehidupan ekonomi, politik,
sosial, dll;
Ø
Transformasi dari
sekelompok Muslim menjadi umat Muslim yang terorganisasi dalam satu tatanan Negara
dengan kepemimpinan Rasulullah sebagai kepala pemerintahan.
Ini menjadi sangat
relevan dengan keadaan umat Islam dewasa ini seperti di Palestina, Suriah,
Afghanistan, Somalia, Sudan dan seterusnya. Kita merasakan penderitaan
saudara-saudara kita disana dan berusaha membantu sebisa kita, tapi suara dan
bantuan kita tidak efektif dan cenderung dianggap angin lalu oleh musuh-musuh
Islam. Islam saat ini bukan merupakan suatu kekuatan, karena kita terpecah.
Umat yang satu, yang bergabung dalam satu kekuatan politik, ekonomi dan
spiritual seperti yang dicontoh oleh Rasulullah melalui Hijrah, harus menjadi
cita-cita yang setiap kita jadikan arah dalam pemikiran dan usaha. Tidak hanya
sekedar wacana dan omong kosong, tapi usaha nyata dari setiap kita. Setiap
individu Muslim harus memikirkan dan melakukan sesuatu untuk mengembalikan
khilafiyah, karena hanya dengan itu umat Islam bisa memperoleh kedamaian dan
ber-Islam secara kaffah.
Allah
mengingatkan kita akan peristiwa Hijrah untuk mengkritik mereka yang menolak
menolong agama Allah.
﴿إِلاَّ تَنصُرُوهُ
فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ … ﴾
At
Tawbah 9: 40. Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah)
mengeluarkannya (dari Mekah)
Kalau kita membantu sebenarnya adalah untuk kebaikan diri kita
sendiri, sebagaimana firman Allah:
﴿مَّنْ عَمِلَ صَـلِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّـمٍ لِّلْعَبِيدِ ﴾
Fussilat
41: 46. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk
dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya)
untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya
hamba-hambaNya
Kalau
kita tidak melakukan apa-apa, yang akan rugi adalah diri kita sendiri; kita
kehilangan kesempatan untuk beramal membantu agama Allah.
Tanpa
bantuan kitapun apa yang sudah ditakdirkan Allah akan terjadi. Salah satu janji
Allah adalah bahwa Allah akan mengembalikan kejayaan kepada kita umat nabi
Muhammad SAW:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ
الصَّـلِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الاٌّرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ
مِن قَبْلِهِمْ …
﴾
An Nuur
24: 55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa...)
Kita percaya bahwa janji Allah
adalah haq. Yang menjadi masalah adalah apakah kia memiliki sumbangan
kontribusi terhadap apa yang sudah dijanjikan Allah tersebut.
Barakallahu li
walakum bil aayaati wadzikril hakiim. Wataqabala minnii waminkum tilawatahu,
innahu huwassamii ‘ul ‘aliim. Wakurrabigfir warham, wa anta khairurraa himiin.